Iklan

Rabu, 21 Maret 2012

Mana Ciuman Untukku?


Dulu ada seorang gadis kecil bernama Cindy. Ayah Cindy bekerja enam hari dalam seminggu, dan sering kali sudah lelah saat pulang dari kantor. Ibu Cindy bekerja sama kerasnya mengurus keluarga mereka--memasak, mencuci dan mengerjakan banyak tugas rumah tangga lainnya.  Mereka keluarga baik-baik dan hidup mereka nyaman.  Hanya ada satu kekurangan, tapi Cindy tidak menyadarinya.

Suatu hari, ketika berusia 9 tahun, ia menginap di rumah temannya, Debbie, untuk pertama kalinya.  Ketika waktu tidur tiba, ibu Debbie mengantar kedua anak iut ke tempat tidur dan memberikan ciuman selamat malam kepada mereka berdua.

"Ibu sayang padamu," kata ibu Debbie.
"Aku juga sayang Ibu," gumam Debbie.
Cindy sangat heran, hingga tak bisa tidur.  Tak pernah ada yang memberikan ciuman selamat malam padanya.  Tak pernah ada yang memberikan ciuman apa pun padanya.  Juga tak ada yang pernah mengatakan menyayanginya.  Sepanjang malam ia berbaring sambil berpikir, Mestinya memang seperti itu.  Ketika ia pulang, orangtuanya tampak senang melihatnya.

"Kau senang di rumah Debbie?" tanya ibunya.
"Rumah ini sepi sekali tanpa kau," kata ayahnya.
Cindy tidak menjawab.  Ia lari ke kamarnya.  Ia benci pada orangtuanya.  Kenapa mereka tak pernah menciumnya? Kenapa mereka tak pernah memeluknya atau mengatakan menyayanginya? Apa mereka tidak menyayanginya.


Ingin rasanya ia lari dari rumah, dan tinggal bersama ibu Debbie.  Mungkin ada kekeliruan, dan orangtuanya ini bukanlah orang tua kandungnya.  Mungkin ibunya yang asli adalah ibu Debbie.

Malam itu, sebelum tidur, ia mendatangi orangtuanya.
"Selamat malam," katanya.  Ayahnya, yang sedang membaca koran, menoleh.
Ibu Cindy meletakkan jahitannya dan tersenyum. "Selamat malam, Cindy"
Tak ada yang bergerak.  Cindy tidak tahan lagi.
"Kenapa aku tidak pernah diberi ciuman?" tanyanya.
Ibu tampak bingung. "Yah," katanya terbata-bata, "sebab....Ibu rasa karena tidak ada yang pernah mencium Ibu waktu Ibu masih kecil Itu saja."

Cindy menangis sampai tertidur.  Selama berhari-hari ia merasa marah.  Akhirnya ia memuttuskan untuk kabur.  Ia akan pergi ke rumah Debbie dan tinggal bersama mereka.  Ia tidak akan pernah kembali kepada orang tua yang tidak menyayanginya.

Ia mengemasi ranselnya dan pergi diam-diam.  Tapi begitu tida di rumah Debbie, ia tidak berani masuk.  Ia merasa takkan ada yang mempercainya.  Ia takkan diizinkan tinggal bersama orang tua Debbie.  Maka ia membatalkan rencananya dan pergi.

Segala terasa kosong dan tidak menyenangkan.  Ia takkan pernah mempunya keluarga seperti keluarga Debbie.  Ia terjebak selamanya bersama orangtua yang paling buruk dan paling tak punya rasa sayang di dunia ini.

Cindy tidak langsung pulang, tapi pergi ke taman dan dduk di bangku.  Ia duduk lama, sambil berpikir, hingga hari mulai gelap.  Sekonyong-konyong ia mendapatkan gagasan.  Rencananya pasti berhasil.  Ia akan membuatnya berhasil.

Ketika ia masuk ke rumahnya, ayahnya sedang menelepon. Sang ayah langsung menutup telepon.  Ibunya sedang dduk dengan eskpresi cemas.  Begitu Cindy masuk, ibunya berseru, "Dari mana saja kau? Kami cemas sekali?"

Cindy tidak menjawab, melainkan menghampiri ibunya dan memberikan ciuman di pipi, sambil berkata, "Aku sayang padamu, Bu"  Ibunya sangat terperanjat, hingga tak bisa bicara.  Lalu Cindy menghampiri ayahnya dan memeluknya sambil berkata, "Selamat malam, Yah.  Aku sayang padamu."  Lalu ia pergi tidur, dan meninggalkan kedua orangtuanya yang terperangah di dapur.

Keesokan paginya, ketika turun untuk sarapan, ia memberikan ciuman lagi pada ayah dan ibunya.  Di halte bus, ia berjingkat dan mengecup ibunya.

"Hai, Bu," katanya, "Aku sayang padamu."
Itulah yang dilakukan Cindy setiap hari selama setiap seminggu dan setiap bulan.  Kadang-kadang orangtuanya menarik diri darinya dengan kaku dan canggung.  Kadang-kadang mereka hanya tertawa.  Tapi mereka tak pernah membalas ciumannya.  Namun Cindy tiak putus asa.  Ia telah membuat rencana, dan ia menjalaninya dengan konsisten.  Lalu suatu malam ia lupa mencium ibunya sebelum tidur.  Tidak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka dan ibunya masuk
"Mana ciuman untukku?" tanya ibunya, pura-pura marah.
Cindy duduk tegak. "Oh, aku lupa," sahutnya.  Lai ia mencium ibunya.
"Aku sayang padamu, Bu." Kemudian ia berbaring lagi.
"Selamat malam," katanya, lalu memejamkan mata.  Tapi ibunya tidak segera keluar.  Akhirnya ibunay berkata,
"Aku juga sayang padamu." Setelah itu ibunya membungkuk dan mengecup pipi Cindy. "Dan jangan pernah lupa menciumku lagi," katanya. Dan ia memang tak pernah lupa lagi.
Cindy tertawa, "Baiklah," katanya.  Dan ia memang tak pernah lupa lagi.

Bertahun-tahun kemudian, Cindy mempunyai anak sendiri, dan isa selalu memberikan ciuman pada bayi itu, samapi katanya pipi mungil bayinya menjadi merah.
Dan setiap kali ia pulang ke rumah, yang pertama dikatakan ibunay adalah, "Mana ciuman untukkku?" Dan kalau sudah waktunya Cindy pulang, ibunya berkata, "Aku sayang padamu. Kau tahu itu, bukan?"
"Ya, Bu," kata Cindy. "Sejak dulu aku tahu."


by M.A Urquhart on Chicken Soup for the Kid's Soul

0 komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...